Teks Anekdot Kelas X Bahasa Indonesia

TEKS ANEKDOT : PENGERTIAN, CIRI-CIRI, TUJUAN, STRUKTUR DAN KAIDAH KEBAHASAAN TEKS ANEKDOT.

Pengertian Teks Anekdot

    Teks anekdot merupakan jenis narasi yang berisi kisah ringan, lucu, atau menarik yang bertujuan untuk menghibur pembaca sekaligus menyampaikan pesan atau makna yang terkandung di dalamnya. Sederhananya teks anekdot adalah sebuah cerita atau kisah yang mengandung sifat lucu.Meskipun teks anekdot berisi cerita lucu, tetapi teks anekdot juga bisa memiliki banyak maksud yang biasanya digunakan untuk menyampaikan kritik.

Agar dapat dipahami lebih jelas, berikut contoh teks anekdot:



Ciri-ciri Teks Anekdot

1.    Ringkas, Padat dan Jelas

       Teks anekdot umumnya singkat dan padat. Cerita yang disajikan tidak berlarut-larut, tetapi tetap mampu mengandung pesan yang ingin disampaikan.

2.    Menghibur

       Salah satu tujuan utama teks anekdot adalah menghibur pembaca. Cerita yang lucu atau menarik diharapkan dapat membuat pembaca tersenyum atau tertawa.

3.    Mengandung Makna atau Pesan

       Meskipun bercerita dengan gaya ringan, teks anekdot sering kali mengandung makna atau pesan yang dapat diambil oleh pembaca.

4.    Memiliki Konflik dan Penyelesaian

       Seperti narasi pada umumnya, teks anekdot juga memiliki konflik atau masalah yang dihadapi oleh karakter dalam cerita, serta penyelesaian yang memunculkan rasa puas atau tawa.

5.    Menggunakan Gaya Bahasa Khas

            Gaya bahasa dalam teks anekdot cenderung santai dan informal. Penggunaan humor, perumpamaan, atau bahkan bahasa gaul dapat memberikan warna tersendiri pada cerita.


Tujuan Teks Anekdot

Teks anekdot merupakan jenis narasi yang berisi kisah ringan, lucu, atau menarik yang bertujuan untuk menghibur pembaca sekaligus menyampaikan pesan atau makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, dalam membuat teks anekdot dibutuhkan tingkat kemampuan dalam memahami selera humor yang sesuai dengan suatu keadaan.

Struktur Teks Anekdot

Struktur teks anekdot ada lima macam yakni, abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan koda/penutup. Struktur teks anekdot wajib dimasukkan dalam sebuah teks anekdot. Berikut penjelasannya;

1.    Abstrak

Bagian awal teks anekdot yang berfungsi memberikan gambaran tentang isi teks. Biasanya, bagian ini menunjukkan hal unik yang akan ada di dalam teks. Abstrak dapat disebut sebagai tahap pembukaan. Bagian ini sifatnya hanya opsional.

2.    Orientasi

Bagian teks yang menunjukkan awal kejadian cerita atau latar belakang suatu peristiwa terjadi. Biasanya, penulis bercerita dengan detil di bagian ini.

3.    Krisis atau Komplikasi

Bagian teks yang menunjukkan hal atau masalah yang unik dan tidak biasa yang terjadi pada penulis atau orang yang diceritakan. Krisis dimaknai sebagai saat terjadinya ketidakpuasan atau kejanggalan.

4.    Reaksi

Bagian teks yang menerangkan cara penulis atau orang yang diceritakan dalam menyelesaikan masalah yang timbul di bagian krisis. Reaksi itu berkenaan dengan tanggapan atau respons atas krisis yang dinyatakan sebelumnya.

Reaksi dapat berupa sikap mencela atau menertawakan. Bagian ini sering kali mengejutkan, sesuatu yang tidak terduga, mencengangkan. Reaksi dijadikan sebagai bagian yang memberikan penyelesaian masalah lengkap dengan menggunakan cara yang menarik dan berbeda dari biasanya.

5.    Koda

        Bagian akhir dari cerita unik tersebut yang menjelaskan simpulan tentang kejadian yang diceritakan oleh penulis. Koda sama dengan penutup pertanda berakhirnya cerita. Di dalamnya berupa persetujuan, komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-kata, seperti itulah, akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda bersifat opsional, yaitu boleh ada atau tidak ada pada sebuah teks anekdot.


Unsur atau Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot

    Teks anekdot memiliki kaidah kebahasaan tersendiri yang berbeda dari teks lainnya. Kaidah kebahasaan di dalam teks anekdot sebagai berikut:

1. Menggunakan kata keterangan waktu lampau, misal: dahulu, tahun lalu, bulan lalu,waktu itu, dan lain-lain.

2. Menggunakan kata penghubung (konjungsi), yang dibagi menjadi: konjungsi antara kata yang satu dengan kata yang lain, konjungsi antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, dan konjungsi antara paragraf yang satu dengan paragraf yang lain.

3. Terdapat penggunaan kata kerja (verba), contoh: membaca, tertawa, berjalan, terdiam, dan sebagainya.

4.    Urutan peristiwa berdasarkan waktu (kronologis).

5.  Menggunakan jenis pertanyaan retorik, yaitu kalimat pertanyaan yang tidak mengharuskan untuk dijawab.

6.    Menggunakan kalimat perintah, contoh: buanglah, ambillah, catatlah, perhatikanlah, dan lain-lain.



Komentar